Berawal dari peluang karir

7 Maret 2012

Rasanya seperti nasi yang sudah menjadi bubur memang, begitu kita mendapati penyesalan atas segala kesempatan yang telah kita sia-siakan begitu saja, dan kita baru menyadarinya di 1/4 jatah usia kita.

Penyesalan ini baru saya dapati ketika saya berada di bangku perkuliahan di masa-masa akhir ketika aku tengah mengerjakan skripsi S1 ku di Teknik Komputer.

Malam itu aku seperti biasa membuka situs jejaring sosial facebook, aku amati perubahan log aktivitas teman-temanku, dan aku memulai beberapa becandaan dengan teman-temanku, menit demi menit kulalui, jam demi jam kulalui, tak terasa sudah hampir 3 jam penuh aku dihibur dengan becandaan2 itu.

Lalu tak lama aku mendapati seorang dosenku mengirimkan informasi karir di PT Pertamina pada grup Official jurusan Teknik Komputer. Awalnya aku tidak terlalu tertarik dengan kiriman tersebut, aku sekedar me-like nya dan mengunjungi URL yang disertakan pada kiriman tersebut, dan sambil menunggu halaman URL tersebut selesai dimuat oleh browser, aku mengisinya dengan selingan game seperti biasa.

Ditengah permainan aku teringat untuk melanjutkan becandaanku di dunia maya tersebut, justru bukan untuk membuka halaman URL yang tadi aku buka. 1 Jam berlalu, ketika aku hendak menutup satu-persatu tab pada browser aku mendapati halaman tersebut (yang belum sempat kubaca). Aku sempatkan sedikit waktu untuk membaca halaman tersebut, aku baca dan aku cermati isi informasinya, dan aku pun mulai tertarik. Aku lihat career opportunities yang bersesuaian dengan pendidikanku, ada 1 poin requirement yang membuatku cukup tertarik, yaitu “TOEFL test point”.

Beberapa minggu yang lalu mungkin bisa dibilang aku mengikuti persiapan TOEFL yang aku sendiri tidak terlalu peduli dengan hasilnya, aku asal saja menjalaninya. Pada point requirement tadi tertulis “PBT TOEFL”, “loh apa lagi ini PBT TOEFL?”, tanyaku dalam hati. Aku berusaha mencari tahu di internet apa itu “PBT TOEFL” dan aku mendapati beberapa bahasan lainnya yang aku sama sekali belum pernah mengetahuinya, diantaranya adalah “PBT TOEFL”, CBT TOEFL”, dan “iBT TOEFL”. Awalnya aku berfikir yah sudahlah wawasanku tentang TOEFL bertambah saat ini.

Tidak sampai 10 menit aku semakin penasaran dengan persyaratan TOEFL test untuk beberapa recruitment pada perusahaan-perusahaan tertentu, dan aku terfikir tentang karir. Karir hidupku ini sebenarnya akan kulabuhkan kemana sih? apakah menjadi pelawak handal yang mengandalkan keahlian bercandaanku pada teman-teman? atau aku terpaksa dengan tanpa ada kebanggaan harus bekerja pada perusahaan tempat ayahku bekerja?

Aku membuka website ETS (Educational Testing Service), namun aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan dalam fikiranku yang sebenarnya aku pun menyadari pertanyaan ini masih belum tersusun jelas secara sistematis. Lalu aku terhenti sejenak untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan ini terlebih dahulu.

Oke, aku sudah menemukan dan menyusun pertanyaan-pertanyaan ini:
1. Setelah lulus aku ingin melanjutkan karir dimana sih?
2. Adakah career opportuinities untuk pendidikan yang tengah aku jalani ini? dan persyaratan apa yang kubutuhkan untuk menjalani karir tersebut?

Perlahan aku berusaha menjawab satu persatu pertanyaan itu. Pertanyaan pertama, aku jawab dengan “Aku ingin bekerja ditempat yang cukup bonafit sehingga aku bisa bangga akan pekerjaan itu, dan pastinya kebanggan itu bukanlah diraih dari pekerjaan yang kudapat dari hubungan relasi orangtua ku yang baik pada rekan kerjanya”. Pertanyaan kedua, aku jawab dengan “Aku akan mulai mencari dari sekarang berbagai career oppotunities yang membutuhkan lulusan fresh graduate pada pendidikanku, lalu kulihat persyaratannya”.

Dari pertanyaan pertama aku mulai menetapkan untuk bekerja pada perusahaan sekelas PT Pertamina, PT Exxon Mobil, dll. Ketika kulihat persyaratan kesempatan karir di PT Pertamina yang dibagikan oleh dosenku tadi aku mendapati bahwa poin TOEFL yang dibutuhkan adalah 450 untuk PBT dan 45 untuk iBT. Belum selesai sampai disini, aku harus mengetahui bagaimana aku dapat meraih poin tersebut, tentunya dengan mengikuti test, tapi dimana? kapan?

Singkat cerita aku mendapatkan informasi terakhir bahwa test TOEFL resmi yang diterima dan diakui untuk wilayah Indonesia adalah test TOEFL iBT yang diadakan oleh IIEF, dan aku mendapat informasi bahwa IIEF mengadakan test 5 kali dalam setahun, dan kamu tau biayanya berapa? ya, itu berkisar $175, atau jika dikonversi ke rupiah (asumsi $1 = Rp10.000) maka totalnya adalah Rp1.750.000. Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu? haruskah aku terus meminta dari orangtuaku di usiaku yang menginjak usia ke-23 tahun ini? Rasanya tidak mungkin.

Oke, kalo memang begitu untuk saat ini aku mulai mempersiapkan rencana, aku harus segera lulus kuliah, lalu karir pertamaku terpaksa kerja di tempat ayahku bekerja, mengumpulkan tabungan untuk mengikuti test tersebut, dan sambil kuliah s.d. bekerja aku akan terus mempelajari Bahasa Inggris, agar pada saatnya (Uang ada dan test diselenggarakan) aku dapat lulus dengan point yang memuaskan, yaitu iBT > 45. Memang setelah aku mendapatkan sertifikat nya semua pasti sudah berubah, kesempatan karir tersebut pasti sudah terisi atau persyaratan poin iBT akan semakin berat, dan aku tidak yakin bahwa aku masih termasuk “Fresh Graduate”.

Aku merasa sudah sangat telat bagiku, baru menyadari hal ini di usiaku sekarang. Mengapa segala kelengkapan fasilitas yang telah orangtuaku sediakan untukku meraih cita-cita tidak dapat menyukseskan cita-citaku? Mengapa dulu dikala orangtuaku mampu membiayaiku aku tidak memenfaatkannya seoptimal mungkin?

Tapi meskipun begitu setidaknya nanti aku sudah menggenggam sertifikat tersebut. aku sudah berusaha semampu yang aku bisa, aku ingin bangga atas keberhasilan dari apa yang kuinginkan, bukan semata-mata dari bantuan orangtua.

Dari sertifikat itu aku akan menceritakan kepada anak-anakku kelak, “Wahai anakku sertifikat ini adalah suatu tanda bahwa ayah telah gagal dalam keberhasilan ayah. Ayah telah berhasil meraih sertifikat ini, namun ayah telat. Sertifikat ini dulunya di usia ayah yang ke-23 adalah pintu menuju keberhasilan, namun ayah baru mendapatkannya di usia ayah yang ke-24. Ayah telat menyadari hal ini karena ayah tidak pernah mendapatkan informasi ini dari saudara-saudara ayah, yang seharusnya ayah ketahui sejak ayah dibangku SMA. Kini engkau harus sudah mengetahui tentang hal ini di usiamu yang kini tengah di bangku SMP”.

Hikmah yang dapat diambil:
Kadang kita merasa terlambat untuk tersadar dari ketidaksadaran kita…
Namun orang yang terlambat tersebut akan terlihat mulia ketika ia tetap istiqomah berusaha meskipun ia menyadari bahwa ia telah terlambat…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: