Gara-gara format audio high-fidelity FLAC

Saya dan teman-teman sekelas baru-baru ini sedang tertarik pada file-file media (audio maupun video) yang kualitasnya High Fidelity. Saya sendiri sekarang sebenarnya baru ikut-ikutan saja setelah mendengar diskusi tersebut, entahlah kalo teman-teman itu karena sekedar gengsi atau mereka bener-bener tipe Audiophile (orang yang memiliki minat besar pada high-fidelity sound reproduction).

File-file media (audio) yang sedang kami koleksi baru-baru ini adalah file audio yang berkstensi (*.FLAC) yang kualitasnya tidak beda jauh dengan kualitas CD Original.

Karena saya pada awalnya penasaran dengan audio dengan ekstensi (*.FLAC), saya coba cari tau algoritma kompresi apa yang digunakan untuk file itu. Dari hasil pencarian tersebut saya menemukan bahwa ternyata audio dengan ekstensi tersebut menggunakan algoritma dengan metode kompresi yang sifatnya lossless, yaitu algoritma Free Lossless Audio Codec (FLAC). Selain algoritma FLAC ternyata terdapat banyak algoritma lainnya yang menggunakan metode kompresi serupa (yang sifatnya lossless), diantaranya yang paling dikenal adalah : Apple Lossless Audio Codec (ALAC), MPEG-4 Audio Lossless Coding (MPEG-4 ALS), Monkey’s Audio (APE), dan WavPack (WV).

Karena tidak puas sampai disitu saja, sempat terbesit di benak saya “Ada ga sih file audio yang tanpa kompresi, PURE hasil rekaman studio rekaman? Kalo ada apa ekstensi ya?” Setelah saya telusuri ternyata CD music Original yang umumnya diperjualbelikan itu berisi file-file berekstensi (*.CDA) dimana file-file tersebut sebenarnya  hanyalah shortcut yang menunjukkan alamat sektor (mulai-selesai) audio PCM suatu musik di dalam media penyimpanan CD Original tersebut.

Tidak berhenti sampai disitu saja, justru saya malah semakin penasaran, “oke lah dengan musik original dengan kualitas CD Original, lalu bagaimana dengan media penyimpanan yang bentuk fisiknya serupa (berupa piringan) namun kapasitasnya jauh lebih besar, seperti DVD atau yang terbaru itu HD-DVD dan Bluray?”.

Hipotesa saya sementara ini adalah, bahwa yang membedakannya adalah saat proses rekamannya, perbedaan perangkat yang digunakan oleh tiap studio rekaman yang membedakan besar-kecilnya ukuran audio hasil rekaman tersebut.

Yang masih menjadi pertanyaan saya, “Bener ga ya? Kalo perangkat rekaman studio itu menggunakan konsep modulasi PCM (Pulse Code Modulation).”. Mudah-mudahan sih sebelum saya lulus S1 diberikan kesempatan kunjungan industri ke Studio DOLBY (hehehe… NGAREP), yah minimal ada seminar yang membahas tentang produksi suatu musik dari mulai Studio Rekaman, Music Store yang menjual CD Musik Original, Kualitas musik terkompresi dengan metode kompresi yang sifatnya lossless beserta penjelasan algoritma-algoritmanya, Penggunaan algoritma dengan metode kompresi yang sifatnya lossy untuk tujuan promosi suatu musik, dan akhirnya sampai di tangan kita yang kebanyakan masih menyimpan dan memutar musik-musik dengan ekstensi (*.MP3)

 

 

 

Share on Facebook

    • pong
    • Januari 7th, 2012

    mantap bro,,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: