Bisnis Debt Collector. Haruskah Ada?

Barusan saya menyempatkan waktu untuk menyimak berita di salah satu stasiun televisi yang menyiarkan berita dengan topik “Antara BANK, Nasabah Bermasalah, dan Debt Collector“. Ini cukup menarik mengingat ada hubungan apa antara ketiga pihak tersebut? Dan permasalahan apa yang sebenarnya terjadi? Untuk lebih jelasnya berikut adalah kutipan berita dari KOMPAS. (Beberapa bagian kutipan saya berikan format (Italic, Bold, dan Underlined) untuk menandakan beberapa bagian yang cukup penting untuk disimak).

 

YLKI: Tidak Perlu Ada “Debt Collector”

Penulis: Ester Meryana | Editor: Erlangga Djumena
Senin, 4 April 2011 | 10:14 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – YLKI menilai, seharusnya jasa debt collector tidak perlu ada mengingat hubungan transaksional yang terjadi antara nasabah dan pihak bank merupakan hubungan perdata.

“Hubungan transaksional terjadi antara konsumen (nasabah) dengan bank. Jadi konsumen nggak ada hubungannya dengan pihak ketiga. Karena hubungan perdata terjadi antara konsumen dengan bank,” jelas anggota pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi dihubungi Kompas.com, Senin (4/4 /2011).

Tulus menambahkan, masalah utang-piutang ini merupakan masalah perdata, di mana bank tidak bisa melimpahkan ke pihak ketiga (debt collector). Menjadi pidana, mengingat pemakaian jasa debt collector ini cenderung menggunakan tindakan kekerasan. Sehingga munculnya debt collector ini justru menimbulkan masalah.

Tulus pun menilai, bank terlalu jor-joran dalam mempromosikan kartu kredit sehingga mengabaikan informasi-informasi penting yang seharusnya diketahui konsumen. Lebih dari itu, sebelum mengesahkan pemberian kartu kredit kepada konsumen, pihak bank seharusnya melakukan penjajakan, seperti kunjungan ke rumah, untuk mengetahui kondisi keuangan konsumen.

“Terlalu mudah atau longgar bank dalam memberikan persyaratan, BI harusnya punya kewenangan untuk itu. Ini merupakan kelalaian,” sebutnya.

Bagi nasabah, YLKI menyarankan, agar jangan terbius oleh promosi kartu kredit. Lihat kondisi sosial, apakah penting untuk memiliki kartu kredit atau tidak. Tepati pembayaran sebelum jatuh tempo, mengingat bunga bank yang cukup tinggi. “Salah membanggakan kartu kredit. Kartu kredit itu sama dengan kartu utang,” jelasnya, yang juga menilai suatu hal yang konyol jika melihat ada konsumen punya 10 kartu kredit.

 

Setelah menyimak berita ini jadi inget mata kuliah Simulasi Pemodelan waktu itu, ada kasus yang hampir mirip dengan kasus Hutang Nasabah dengan BANK seperti di berita. Mumpung masih seger dicoba inget-inget lagi ah, biar ga cepet lupa, dan tetep fresh terus di kepala.

 

 

Dan ini adalah grafik Equilibrium Value dari kasus contoh soal diatas.

 

 

Nah, intinya Think Smart Before Doing Anything (Berfikir smart aja deh sebelum melakukan sesuatu) biar pengambilan keputusannya ga salah. By the way saya termasuk yang setuju dengan pendapat anggota pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tersebut. Kasus perdata ya kasus perdata aja jangan dibawa-bawa sampe ke kasus pidana. Antara Nasabah dan pihak BANK menyelesaikan urusannya sesuai ketentuan hukum yang berlaku, pihak ketiga, hmmm… (ada yang mau menambahkan kata-kata saya?)

 

 

 

SEKIAN DAN TERIMA KASIH

 

Finding Equilibrium Value

Consider a dynamical system of the form . For an equilibrium value to occur, . Let’s call the equilibrium value . Substituting

Contoh soal

Anda memiliki hutang di kartu kredit sebesar USD $500 yang memiliki suku bunga pinjaman sebesar 1.5% /bulan. Sedangkan kemampuan anda dalam membayar hanya sebesar USD $50 /bulan. Carilah nilai equilibrium untuk kasus ini!

Diketahui :

Ditanyakan : Nilai Equilibrium (Equilibrium Value) = …?

Jawab :

; untuk mencari Equilibrium Value nilai

Maka dari kasus diatas dapat diambil kesimpulan bahwa jika kemampuan membayar hutang kartu kredit BANK anda hanya sebesar USD $50, maka jangan coba-coba memiliki hutang di BANK melebihi USD $3333.33 (Nilai Equilibrium Value). Karena nantinya hal itu akan menyulitkan anda sendiri.

    • Ahmad Rojak
    • Maret 7th, 2013

    Hampir aja beberapa minggu yang lalu gw mau bakar salah satu debt collector yang mengaku dari SCB, bukan gw yg punya utang eh gw dimaki2 habis2an didepan rumah baru gw, gak pake nanya2 lagi siapa gw eh malah gw dimaki2 sambil gedor2 pagar, gak pake lama gw yg kebetulan habis ngisi zippo msh bawa gas cairnya gw semprotin tuh kemuka debcolnya, habis itu gw nyalain korek zippo gw yang gak bisa mati alias tahan angin, sampe ngompol dah tuh debcol sama gw… buset deh bau pesingnya kayak habis makan pete 2 kg…!!!

    Untung datang satpam perumahan gw padahal orang2 gw udah ngumpul tuh, kalo gak didamaikan mungkin udah habis gw bakar itu debcol banyak bacot sambil celananya basah kena ompolnya. Badan gedhe nyali nya sekuku monyet

    Oiya gw sempet foto mukanya tp agak burem dan id cardnya, alamat PT nya sih gw dikasih tp paling alamat palsu

    Intinya jangan takut sama debcol. Hadapi aja asal kita jujur dan mereka gak bertindak arogan klo mereka main api kita balas pake api, api unggun tentunya

    Kadang ada debcol yang merasa badannya gedhe item muka sangar kebanyakan bikin ulah seenaknya sendiri, ini negara hukum bukan seenaknya sendiri main maki2 orang apalagi main teror2 segala, hadapi aja jangan takut, justru kalau kita keliatan takut malah makin diinjak2 sama mereka

    Mohon pejabat maupun aparat pemerintah segera menertibkan hal-hal seperti ini karena bila tidak segera ditertibkan kemungkinan banyak masyarakat yang bertindak main hakim sendiri untuk menghadapi para debcol yang bersifat arogan

    Terima kasih

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: